Di balik lanskap Kabupaten Pangandaran yang asri, SMAN 1 Langkap Lancar telah lama berjuang di garis depan pendidikan yang relevan, membekali siswanya dengan keterampilan hidup (life skill) melalui kewirausahaan. Sekolah ini bukan hanya lembaga akademik, tetapi juga produsen aktif yang menghasilkan komoditas unik, mulai dari kohe (kotoran hewan), cocopeat, pupuk cair organik, hingga aneka makanan kering dan tanaman hidroponik.

Namun, keunikan ini tidak serta-merta membawa kemajuan. SMAN 1 Langkap Lancar menghadapi kenyataan pahit: produk mereka stagnan dan tidak laku karena kurangnya kemampuan mengelola pemasaran pendidikan, khususnya melalui platform digital. Di tengah laju era serba digital, manajemen pemasaran memang tidak bisa lagi dipisahkan dari istilah digital marketing, sebuah cara pemasaran yang dikenal efektif dan efisien.
Dari Stagnasi ke Strategi Kotler
Kondisi stagnan ini menuntut perubahan cepat. Jurnal ini adalah wujud literatur dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berupaya menjawab tantangan tersebut melalui Workshop Manajemen Pemasaran Lembaga Pendidikan Melalui Digital Marketing.
Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi mendalam kepada guru, murid, dan staf—yang merupakan stakeholder utama—tentang pentingnya marketing management. Dalam konteks ini, manajemen pemasaran (menurut Kotler dan Keller) adalah pasar sasaran yang harus mampu menarik, mempertahankan, dan meningkatkan konsumen dengan memberikan kualitas penjualan yang baik.
Jelas, persaingan ketat di era digital menuntut sekolah beralih dari model konvensional/tradisional ke pemasaran berbasis digital. Pemasaran digital, yang mencakup iklan online hingga penggunaan media sosial, memungkinkan transaksi dan komunikasi dilakukan setiap waktu dan menjangkau pasar global.
Menata Arah dengan Business Model Canvas
Untuk menjembatani jurang antara produk unik dan pasar digital yang luas, SMAN 1 Langkap Lancar memilih strategi Business Model Canvas (BMC) sebagai kerangka rujukan. BMC didefinisikan sebagai kerangka manajemen untuk mempermudah melihat gambaran ide bisnis dan realisasinya secara visual dan cepat.
Dalam lokakarya tersebut, para peserta diajari menata sembilan aspek BMC, termasuk Proposisi Nilai (Value Proposition), menentukan manfaat dan keunggulan spesifik yang ditawarkan. Saluran (Channels), menentukan media interaksi digital yang efektif, seperti website dan media sosial.
Pemilihan BMC ini sangat krusial. Meskipun SMAN 1 Langkap Lancar sudah memiliki akun Instagram, akun tersebut sebelumnya tidak berkembang signifikan dan jangkauannya tidak luas. Workshop ini mendorong mereka untuk berani berinovasi dan secara konsisten membuat konten yang lebih menarik untuk memperkuat branding.
Hasil yang Merekah
Hasil di lapangan membuktikan bahwa lokakarya ini sangat membantu siswa dan guru dalam mengembangkan program kewirausahaan di sekolah. Dengan penguasaan keterampilan pemasaran digital, SMAN 1 Langkap Lancar tidak hanya berpotensi menjadi sekolah yang dikenal lebih luas, tetapi juga menghasilkan manfaat yang jauh lebih luas bagi masyarakat dan membantu siswa dan guru untuk dapat berwirausaha di rumahnya.
SMAN 1 Langkap Lancar kini terus berbenah, menunjukkan bahwa manajemen pemasaran yang strategis—ditopang oleh kualitas produk yang jujur dan islami—adalah kunci agar lembaga pendidikan tidak hanya mencetak generasi terampil, tetapi juga mampu bertahan dan bersaing di pasar modern.
