Di Kabupaten Pangandaran, fakta ini cukup mengkhawatirkan – dari setiap tiga ribu lulusan SLTA tidak lebih dari 20% melanjutkan ke Perguruan Tinggi- . Angka ini—yang menunjukkan bahwa mayoritas anak muda harus segera siap terjun ke dunia kerja—menjadi tantangan besar bagi sistem pendidikan.
Namun, seorang akademisi memiliki solusi yang inovatif.
Dr. Irpan Ilmi, S. Hum., M.M., dari STITNU Al-Farabi Pangandaran, berpendapat bahwa kunci untuk mengatasi masalah ini bukan hanya dengan mendorong siswa kuliah, tetapi dengan membekali mereka keterampilan hidup (life skill) dan kemampuan pemasaran digital yang mutakhir.
Kebutuhan Mendesak: Kenapa Sekolah Harus Berjualan?
Selama ini, peran sekolah dianggap selesai setelah mentransfer ilmu pengetahuan. Namun, Dr. Irpan Ilmi melihat peluang yang lebih besar.
“Lembaga pendidikan harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Di era digital dan tingginya angka pengangguran lulusan, sekolah harus mengajarkan anak bagaimana bertahan hidup dan menghasilkan pendapatan dari keterampilan mereka,” ujar Dr. Irpan Ilmi, yang berfokus pada Manajemen Pendidikan Islam.
Fungsi manajemen pemasaran, menurut Dr. Irpan, sangat penting untuk mengubah citra lembaga pendidikan. Ia dan timnya menyoroti kasus SMAN 1 Langkap Lancar di Pangandaran. Sekolah ini sebenarnya adalah contoh model yang bagus karena telah membekali siswa dengan life skill wirausaha yang unik.
Kohe dan Cocopeat: Produk Unggulan yang “Stagnan”
SMAN 1 Langkap Lancar telah sukses memproduksi komoditas berbasis potensi daerah seperti Kohe (kotoran hewan), Cocopeat, Tanaman Hidroponik, Pupuk cair organik , Aneka makanan kering.
Akan tetapi, produk-produk unggulan ini mengalami kendala serius.
“Kami menemukan bahwa produk-produk kewirausahaan mereka stagnan. Tidak laku dan tidak terpublikasikan kepada masyarakat luas,” jelas Dr. Irpan Ilmi. “Masalah utamanya bukan pada kualitas produk, tetapi pada kurangnya penguasaan digital marketing.”
Solusi Pakar: Mengubah Jualan Sekolah Menjadi E-Marketing
Untuk mengatasi stagnansi ini, Dr. Irpan Ilmi dan timnya melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berupa Workshop Manajemen Pemasaran Lembaga Pendidikan Melalui Digital Marketing.
Fokus utama workshop ini adalah memperkenalkan dasar-dasar digital marketing, yang terbukti menjadi cara pemasaran yang murah, efektif, dan efisien di era digital.
- Pengenalan Platform Digital. Siswa dan guru diajarkan cara memanfaatkan platform seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan TikTok untuk memasarkan produk sekolah.
- Strategi Konten (SEO dan Media Sosial). Dr. Irpan Ilmi menekankan bahwa pemasaran digital tidak hanya sekadar mengunggah foto. Mereka harus menciptakan konten yang berkualitas dan konsisten agar branding sekolah semakin kuat dan menjangkau lebih banyak konsumen.
- Membuat Peta Jalan Bisnis (BMC). Strategi yang dipilih adalah Business Model Canvas (BMC). Ini adalah kerangka kerja visual untuk menjabarkan ide bisnis secara cepat dan mudah dilihat, mencakup segmen konsumen hingga sumber pendapatan.
Hasilnya: Sekolah Menjadi Brand Kompetitif
Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa workshop ini sangat membantu siswa dan guru dalam mengembangkan program kewirausahaan. Setelah mendapatkan edukasi ini:
- SMAN 1 Langkap Lancar kini punya bekal untuk mengelola sistem pemasaran, menjadikan produk mereka sebagai daya tarik utama bagi calon siswa.
- Penguasaan digital marketing memungkinkan sekolah untuk menjadi lebih dikenal, menjangkau pasar lebih luas, dan menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
- Keterampilan ini tidak hanya membantu sekolah, tetapi juga membekali siswa dan guru untuk berwirausaha secara mandiri di rumah mereka.
Dr. Irpan Ilmi menyimpulkan, “Di tengah persaingan ketat, lembaga pendidikan harus berani berinovasi. Produk unggulan life skill saja tidak cukup; produk itu harus dipasarkan secara digital. Dengan begitu, kita mengubah lulusan yang tadinya pasif menjadi stakeholder yang aktif dan mandiri di masa depan.”
