Bukan Bantuan Pemerintah, Dr. Irpan Ilmi Ungkap Kunci SMK Ini Menggratiskan Biaya Sekolah di Tengah Krisis COVID-19

Pandemi COVID-19 adalah mimpi buruk finansial bagi banyak lembaga pendidikan swasta di Indonesia, yang berujung pada kesulitan membayar guru dan beban SPP bagi orang tua. Di tengah badai ini, Dr. Irpan Ilmi, S. Hum., M.M., seorang peneliti manajemen pendidikan dari STITNU Al-Farabi Pangandaran, melakukan penelitian kualitatif untuk mencari tahu “Bagaimana sebuah sekolah dapat bertahan dari krisis ekonomi tanpa membebani siswa?”

Temuan Dr. Irpan Ilmi sangat mengejutkan dan menjadi novelty dalam manajemen pendidikan masa krisis.

“Strategi Kelas Ekologi dengan domain Ekonomi Hijau terbukti mampu mengeluarkan SMK Bakti Karya Parigi dari krisis keuangan selama Pandemi COVID-19. Sekolah ini berhasil menghapuskan biaya SPP dan biaya hidup siswa selama pendidikan mereka.”

Mengapa Ekonomi Hijau?

Menurut Dr. Irpan Ilmi, SMK Bakti Karya Parigi tidak hanya menerapkan konsep lingkungan biasa, melainkan konsep pembangunan berkelanjutan yang matang5. Program unggulan mereka, Kelas Ekologi, dirancang untuk memenuhi tiga tujuan utama secara bersamaan:

  1. Perlindungan Lingkungan. Menjaga kelestarian alam dan sumber daya.
  2. Pembangunan Sosial. Menciptakan interaksi intens dan dekat antara siswa dan guru.
  3. Pembangunan Ekonomi (Ekonomi Hijau). Menghasilkan output kekaryaan yang membantu perekonomian sekolah.

Athif Roihan Natsir, Kepala SMK Bakti Karya Parigi, menjelaskan filosofi yang mendasari program ini, yang dianalisis oleh Dr. Irpan Ilmi sebagai fondasi keberhasilan:

“Kami tidak mengenal istilah pemberantasan, yang kami gunakan adalah pengendalian. Maka, pendidikan kasih sayang antara manusia dan hewan serta tumbuhan melalui kelas ekologi adalah alasan kenapa SMK Bakti Karya Parigi ini ada.”

Proses yang Ditemukan Dr. Irpan Ilmi

Dr. Irpan Ilmi meneliti detail implementasi yang membuat program ini berkelanjutan. Sekolah ini melibatkan 75 siswa dalam konsep pendampingan ‘1 Guru 5 Siswa’, di mana setiap kelompok mengelola lahan.

Fitri Suciawati, Direktur Kelas Ekologi, menyoroti bagaimana program ini menumbuhkan modal terbesar siswa—potensi diri:

“Dalam berbisnis seringkali kita butuh modal besar, padahal Allah S. W. T. memberikan modal yang lebih besar yaitu potensi yang ada di dalam diri kita… Siswa diwajibkan untuk membuang jauh-jauh rasa malas, giatkan badan untuk mengolah lingkungan…”

Hasil pengelolaan lahan ini dikelola untuk dikonsumsi sendiri dan dijual ke masyarakat.

Produk yang Menopang Keuangan Sekolah:

  • Panen Harian; Telur Ayam dan Telur Bebek.
  • Pengolahan; Teh Bunga Telang, Minyak VCO, dan Pupuk Organik.
  • Kekaryaan; Kain Sibori (pewarna alami dari limbah kayu Mahoni, dll.).

Rosalina, Guru Kewirausahaan, membenarkan bahwa keberlanjutan ini menjadi poin plus yang menjadikan produk sekolah banyak dicari:

“Semua limbah kami gunakan kembali untuk pembuatan pupuk organik, hasilnya kami tidak memakai kimia dan perawatan yang ramah lingkungan menjadi poin plus. Produk kami menjadi incaran banyak orang karena mempunyai kualitas baik.”

Kesimpulan Dr. Irpan Ilmi: Resep Tahan Krisis

Dr. Irpan Ilmi menyimpulkan bahwa keberhasilan SMK Bakti Karya Parigi selama periode April 2020 hingga April 2021 membuktikan bahwa Ekonomi Hijau adalah strategi keuangan dan manajemen yang efektif.

Strategi ini bukan hanya tentang lingkungan, tetapi tentang perencanaan matang dan tindakan hari ini. Model one teacher five student memastikan bahwa sekolah juga bertanggung jawab terhadap psikologi dan problematika siswa, menjadikan pembelajaran di sekolah ini holistik dan tahan terhadap tantangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *